Bayangkan kamu sedang duduk di kamar, di luar sana hujan deras mengguyur Jakarta atau kota lain di Indonesia, jalanan sepi setelah malam tiba, dan semua orang memilih bertahan di rumah sambil hangatkan diri. Suasana seperti ini sempurna untuk menyalakan PC atau konsol, lalu memutar album post-rock ikonik dari M83 berjudul Dead Cities, Red Seas & Lost Ghosts. Album sophomore mereka yang dirilis tahun 2003 ini punya vibe "icy" atau membekukan yang bikin pengalaman gaming jadi lebih mendalam, terutama untuk game eksplorasi atau open-world. Sebelum M83 bertransformasi jadi proyek pop bertema 80-an seperti di Hurry Up, We're Dreaming, karya ini lebih mirip dengan band shoegaze seperti Mogwai, penuh lapisan gitar ambient dan synth yang membangun atmosfer epik.
1 Latar Belakang Album dan Suasana yang Membekukan
Album Dead Cities, Red Seas & Lost Ghosts adalah karya kedua M83, proyek solo dari Anthony Gonzalez asal Prancis yang dibantu teman-temannya. Dirilis pada 6 Mei 2003 melalui label GoDIY, album ini terinspirasi dari imajinasi gelap tentang kota-kota mati, lautan merah, dan hantu yang hilangโtema yang sempurna mencerminkan badai salju ganas di New York City seperti yang dialami penulis asli. Di Indonesia, kita bisa relate dengan musim hujan yang sering bikin banjir dan suasana muram, mirip efek "post-apocalyptic" di game seperti The Last of Us atau Death Stranding.
Sound-nya didominasi post-rock instrumental dengan build-up lambat, gitar dreamy, dan drum yang meledak tiba-tiba, tanpa vokal dominan kecuali di beberapa track. Ini beda banget dari era kemudian M83 yang penuh synth-pop nostalgik. Bagi gamer Indonesia yang jarang dengar post-rock, bayangkan seperti OST dari game Jepang seperti Ni no Kuni tapi lebih gelap dan luas, cocok buat nemenin grinding di MMORPG atau eksplorasi dunia terbuka.
Perlu Diketahui
Album ini direkam di berbagai lokasi di Eropa, termasuk Antibes, Prancis. Durasi total 60 menit dengan 10 track, dan sering dipuji kritikus sebagai salah satu puncak post-rock awal 2000-an. Rating di Pitchfork: 8.4/10.
2 Evolusi M83: Dari Post-Rock ke Pop 80-an
Sebelum jadi band yang terkenal dengan hit seperti "Midnight City" dan soundtrack film Oblivion, M83 punya akar kuat di scene post-rock. Album debut mereka M83 (2001) sudah nunjukin potensi, tapi Dead Cities... bikin mereka meledak dengan produksi lebih matang. Pengaruh Mogwai terasa di track-track panjang yang build tension, mirip album Young Team dari band Skotlandia itu.
Setelah ini, Gonzalez bereksperimen dengan vokal dan elemen 80-an di Before the Dawn Heals Us (2005), lalu puncaknya di album 2011. Bagi gamer, evolusi ini relevan karena musik M83 sering muncul di game indie modern atau trailer AAA, seperti di Life is Strange. Di Indonesia, di mana akses Spotify atau YouTube mudah, album lama seperti ini jadi hidden gem untuk playlist gaming tanpa iklan ganggu.
- โญ Fitur Utama Album: Lapisan synth tebal, gitar reverb panjang, dan dynamic range tinggi yang bikin headset gaming terasa hidup, ideal untuk audio spatial di game seperti Cyberpunk 2077.
- โญ Perbandingan dengan Mogwai: Sama-sama instrumental epik, tapi M83 lebih electronic, cocok buat gamer yang suka mix ambient dengan action cepat di Elden Ring.
3 Rekomendasi Track dan Pairing Game Sempurna
Track pembuka "Moonchild" langsung bawa kamu ke dunia alien dengan synth menggantung, pas banget buat eksplorasi di No Man's Sky atau Journey. Lalu "Lower Your Eyelids to Die With the Sun" dengan vokal ethereal-nya, ideal nemenin cerita emosional di Red Dead Redemption 2 saat riding kuda di padang luas.
Bagi gamer Indonesia yang main Mobile Legends atau Free Fire saat hujan, coba "Run into the Shadows" untuk mood booster tanpa lirik mengganggu. Album ini juga punya potensi remix modern untuk EDM gaming playlist.
Pro Tip!
Setup equalizer di Spotify atau Winamp dengan bass rendah + treble tinggi untuk efek icy maksimal. Gunakan mode "spatial audio" di AirPods atau headset gaming seperti Razer BlackShark untuk immersion 360 derajat saat main game open-world. Tambah playlist ini ke Steam Music Player untuk sync otomatis!
- 1 Moonchild: Pairing dengan Subnautica โ eksplorasi bawah laut terasa lebih misterius.
- 2 A America: Cocok untuk Watch Dogs Legion โ nuansa cyberpunk dingin London.
- 3 Only Melancholy Survives: Chill grinding di Genshin Impact sambil farming artifact malam hari.
4 Mengapa Album Ini Wajib di Playlist Gamer Indonesia?
Di tengah dominasi K-pop atau EDM di playlist gaming lokal, post-rock seperti ini tawarkan variasi segar. Cocok untuk gamer yang bosan lagu berulang di lobby MLBB, dan bantu tingkatkan fokus saat ranked PUBG Mobile. Plus, album ini gratis streaming di YouTube Music atau Spotify Premium yang murah di Indo.
Insight tambahan: Musik instrumental kurangi distraksi lirik, bikin reaction time lebih cepat di FPS, sesuai studi tentang audio immersion di gaming. Coba sendiri saat musim hujan berikutnya!
Singkatnya, Dead Cities, Red Seas & Lost Ghosts bukan cuma album lama M83, tapi senjata rahasia untuk elevasi pengalaman gaming kamu jadi lebih sinematik dan atmosferik. Putar saat cuaca buruk, pair dengan game favorit, dan rasakan bagaimana post-rock Prancis ini ubah sesi biasa jadi petualangan epik. Cocok untuk semua level gamer Indonesia, dari casual mobile sampai hardcore PC.