Home Blog Gaming Film Pendek AI Darren Aronofsk...
📝
Gaming

Film Pendek AI Darren Aronofsky yang Bikin Kecewa: Kisah Berdirinya Amerika yang Amburadul

A

Administrator

Author

31 Jan 2026
27 views
0 komentar
Share:

Di era di mana kecerdasan buatan (AI) semakin merajalela di dunia hiburan, kolaborasi antara sutradara papan atas Darren Aronofsky dengan Google DeepMind menjanjikan sesuatu yang revolusioner. Namun, proyek film pendek berbasis AI ini justru menuai kritik pedas, disebut sebagai 'slop' atau konten sampah tentang pembentukan negara yang sedang runtuh. Bagi gamer Indonesia yang akrab dengan konten AI-generated di game seperti procedural generation di No Man's Sky atau NPC cerdas di The Sims, kisah ini jadi pengingat penting akan risiko kualitas rendah dari teknologi ini.

Artikel ini akan membahas secara mendalam proyek kontroversial tersebut, latar belakangnya, kritik yang dilontarkan, serta implikasinya bagi industri gaming di Indonesia. Kita juga akan eksplorasi bagaimana AI bisa jadi pedang bermata dua, terutama saat gamer kita sering bergelut dengan konten digital yang masif tapi kadang asal-asalan.

1 Latar Belakang Darren Aronofsky dan Kolaborasi AI-nya

Darren Aronofsky bukan nama asing bagi penggemar film indie berkualitas tinggi. Sutradara asal Amerika ini dikenal lewat karya-karyanya yang intens dan provokatif, seperti The Whale (2022) yang meraih pujian Oscar untuk Brendan Fraser, serta Mother! (2017) yang penuh alegori kontroversial tentang lingkungan dan agama. Film-filmnya sering mengeksplorasi tema psikologis gelap, seperti kecanduan di Requiem for a Dream (2000) yang ending-nya terkenal menyiksa penonton.

Kali ini, Aronofsky berkolaborasi dengan Google DeepMind—divisi AI Google yang terkenal dengan model seperti Gemini—dan rumah produksi Primordial Soup. Mereka menghasilkan serangkaian film pendek (shorts) yang mendramatisasi pendirian Amerika Serikat. Ide awalnya menarik: menggunakan AI untuk merevitalisasi sejarah dengan visual futuristik. Namun, hasil akhir justru disebut lebih tak tertahankan daripada akhir Requiem for a Dream.

ℹ️

Perlu Diketahui

Google DeepMind adalah pionir AI seperti AlphaGo yang kalahkan juara Go dunia. Kolaborasi ini bagian dari tren Hollywood eksplorasi AI, mirip Sora dari OpenAI untuk video generatif.

2 Isi Konten dan Kritik Pedas yang Dilontarkan

Film pendek ini menggambarkan proses founding of the United States—seperti Deklarasi Kemerdekaan 1776 dan Konstitusi 1787—tapi dengan narasi dystopian: negara yang baru terbentuk sudah 'about to crumble' atau akan runtuh. Visual AI-generated disebut 'slop', artinya konten murahan yang repetitif, kurang koheren, dan penuh glitch seperti wajah aneh atau animasi kaku.

Kotaku, situs gaming terkemuka, menyebutnya 'unwatchable'—lebih buruk dari ending Requiem for a Dream yang ikonik menyiksa. Kritik ini relevan bagi gamer Indonesia, karena kita sering jumpa 'slop' di game free-to-play seperti Mobile Legends atau Free Fire saat event AI-generated yang bugi atau storyline lemah.

  • 1 Narasi Dystopian: Cerita fokus pada kerapuhan fondasi AS modern, tapi eksekusi AI bikin terasa palsu dan tidak emosional, beda jauh dari kedalaman film Aronofsky biasa.
  • 2 Visual AI Bermasalah: Glitch seperti tangan enam jari atau dialog robotik, mirip masalah early AI art generator seperti Midjourney versi awal.
  • 3 Durasi Pendek Tapi Melelahkan: Shorts ini gagal bangun empati, justru bikin bosan cepat, kontras dengan short film sukses seperti Pixar.

3 Dampak ke Industri Gaming dan Pelajaran untuk Gamer Indonesia

Bagi komunitas gaming Indonesia, proyek ini jadi peringatan. AI sudah merambah game: dari generative world di Minecraft mod, hingga NPC dinamis di GTA VI yang dirumorkan. Tapi 'slop' seperti ini bisa banjiri Steam atau Play Store dengan konten murah, merugikan developer indie lokal seperti Agate atau Toge Productions.

Di Indonesia, di mana top-up diamond FF atau UC PUBG populer, gamer harus waspada konten AI di event seasonal yang kadang generik. Insight: AI bagus untuk efisiensi, tapi butuh human touch untuk cerita mendalam seperti di Genshin Impact.

💡

Pro Tip!

Sebelum coba konten AI di game seperti Roblox atau AI Dungeon, cek review komunitas Indonesia di Reddit atau Discord. Prioritaskan game dengan hybrid AI-human seperti Cyberpunk 2077 Phantom Liberty untuk pengalaman premium.

  • Pilih Game AI Berkualitas: Hindari free asset AI slop; pilih yang punya curasi manusia seperti Starfield's procedural planets yang di-refine developer.
  • Ikut Komunitas: Di Kaskus atau Facebook Group Gaming Indo, diskusikan AI trend untuk hindari hype palsu seperti kasus ini.
  • Support Lokal: Top-up di game dev Indo seperti DreadOut untuk konten autentik, bukan AI generik global.

4 Masa Depan AI di Hiburan: Harapan vs Realita

Meski gagal, proyek ini bukti AI masih berkembang. Di masa depan, tool seperti DeepMind bisa bantu developer game ciptakan cutscene dinamis atau quest tak terbatas, asal diawasi ketat. Bagi gamer Indonesia, yang pasarnya tumbuh pesat dengan 100 juta+ player, ini peluang sekaligus ancaman.

Kesimpulannya, film AI Aronofsky mengingatkan kita bahwa teknologi canggih tak selalu hasilkan karya hebat tanpa visi manusia. Di gaming, prioritaskan kualitas daripada kuantitas—pilih pengalaman autentik yang bikin ketagihan, bukan slop yang cepat bosan. Dengan begitu, kita bisa nikmati evolusi AI tanpa kecewa seperti kasus ini.

A

Administrator

Content Writer

Penulis artikel seputar gaming dan top up. Senang berbagi tips dan trik gaming!

Komentar (0)

Login untuk Berkomentar

Silakan login terlebih dahulu untuk dapat meninggalkan komentar.

Login Sekarang

Belum punya akun? Daftar di sini

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

📰

Saudi Arabia Bidik Moonton Pembuat Mobile Legends Senilai Rp95 Triliun: Apa Dampaknya untuk Gamer Indonesia?

16 Feb 2026 Baca →
Out of the Park Baseball 27 Siap Meluncur Pertengahan Maret: Upgrade Lengkap untuk Simulasi Baseball Terdepan

Out of the Park Baseball 27 Siap Meluncur Pertengahan Maret: Upgrade Lengkap untuk Simulasi Baseball Terdepan

15 Feb 2026 Baca →
Review OPPO Reno15 F 5G: HP Gaming 5G Mid-Range dengan Performa Ngebut untuk MLBB dan PUBG Mobile

Review OPPO Reno15 F 5G: HP Gaming 5G Mid-Range dengan Performa Ngebut untuk MLBB dan PUBG Mobile

14 Feb 2026 Baca →