Di dunia gaming yang semakin ramai, menemukan game baru yang benar-benar menarik bukanlah hal mudah lagi. Guy Ulmer, pemimpin platform partnerships di Plarium—perusahaan di bawah Modern Times Group yang mengembangkan game populer seperti Raid: Shadow Legends dan Stormfall: Saga of Survival—berbagi pandangan mendalam dalam opini berjudul "The Death and Reincarnation of Game Discoverability". Bagi gamer Indonesia, di mana pasar mobile game mendominasi dengan judul-judul seperti Mobile Legends dan Free Fire, pemahaman ini krusial untuk menavigasi lautan game yang membanjiri App Store dan Google Play.
Artikel ini bukan sekadar opini, tapi analisis tajam tentang evolusi cara game ditemukan player. Dari kematian discoverability tradisional hingga kebangkitannya dalam bentuk baru, Ulmer menyoroti perubahan besar yang memengaruhi developer dan publisher global, termasuk di Indonesia yang punya lebih dari 100 juta gamer aktif.
1 Apa Itu Discoverability Game dan Mengapa Penting?
Discoverability merujuk pada kemampuan game untuk ditemukan oleh player potensial di tengah ribuan judul yang bersaing. Dulu, ini bergantung pada ranking organik di app store, rekomendasi editorial, atau pencarian kata kunci. Namun, seperti yang dijelaskan Ulmer, era itu telah berakhir. Di Indonesia, di mana 90% gamer mengakses game via mobile, discoverability menentukan apakah game bisa bertahan atau tenggelam di antara raksasa seperti PUBG Mobile dan Genshin Impact.
Pentingnya discoverability tak terbantahkan: tanpa itu, bahkan game berkualitas tinggi seperti Raid: Shadow Legends—yang punya grafis epik dan gameplay RPG mendalam—bisa luput dari perhatian. Plarium sendiri sukses karena strategi pintar, tapi Ulmer menekankan bahwa ini bukan keberuntungan semata, melainkan adaptasi terhadap perubahan pasar.
Perlu Diketahui
Plarium, bagian dari Modern Times Group, fokus pada game cross-platform (mobile, browser, PC). Raid: Shadow Legends saja telah diunduh jutaan kali di Indonesia, berkat campuran UA (User Acquisition) dan komunitas kuat.
2 Kematian Discoverability di Era App Store
Ulmer menyebut discoverability "mati" karena dominasi app store yang semakin ketat. Algoritma Apple dan Google kini lebih memprioritaskan game berbayar tinggi atau yang punya iklan masif, membuat ruang untuk game indie atau mid-tier menyempit. Di Indonesia, di mana top-up diamond FF atau skin ML jadi budaya, kompetisi UA via iklan Facebook dan Google Ads makin sengit, dengan biaya per install (CPI) melonjak hingga Rp10.000-20.000 per user.
Faktor lain: saturasi pasar. Setiap hari, ratusan game baru rilis, tapi hanya 1% yang bertahan lebih dari 30 hari. Ulmer dari Plarium mengamati bahwa ranking organik kini hanya menyumbang kurang dari 20% unduhan, sisanya dari paid acquisition—mirip kondisi di pasar Indonesia yang didominasi hyper-casual game dari developer China.
- 1 Saturasi App Store: Lebih dari 5 juta app, tapi hanya 200.000 game aktif. Di Indonesia, gamer kesulitan filter game berkualitas.
- 2 Algoritma Berubah: Fokus pada retention dan monetisasi, bukan sekadar download. Game seperti Stormfall harus adaptasi cepat.
- 3 Biaya UA Tinggi: CPI global naik 30% YoY, tantangan besar bagi developer lokal Indonesia.
3 Reinkarnasi Discoverability: Cara Baru Menemukan Game
Kabar baiknya, Ulmer yakin discoverability bereinkarnasi melalui kanal baru seperti social media, influencer, dan live operations. Plarium sukses dengan Raid: Shadow Legends berkat kolaborasi Twitch streamer dan TikTok challenge, yang organik banget di kalangan gamer muda Indonesia. Komunitas Discord dan Reddit jadi "app store baru", di mana word-of-mouth lebih kuat daripada ranking.
Strategi ini relevan untuk pasar Indonesia: bayangkan game lokal seperti Area F2 atau Habri yang viral via YouTuber. Ulmer menekankan hybrid approach—gabungkan paid UA dengan community building untuk retention jangka panjang.
Pro Tip!
Untuk gamer Indonesia: Ikuti subreddit seperti r/gamingindonesia atau TikTok hashtag #GameRekomendasi untuk temukan hidden gem. Hindari iklan bombastis; cek review komunitas dulu sebelum download!
- ⭐ Social Media & Influencer: 40% unduhan kini dari TikTok/YouTube di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
- ⭐ Live Ops & Events: Update rutin seperti di Raid bikin player stay dan share ke teman.
- ⭐ Cross-Promo: Kolaborasi antar game, efektif untuk eksposur murah.
4 Implikasi untuk Developer dan Gamer Indonesia
Bagi developer lokal, pelajaran dari Plarium: investasi di komunitas lebih hemat daripada UA murni. Di Indonesia, dengan pertumbuhan esports dan top-up game mencapai triliunan rupiah, game yang kuat di retention akan menang. Ulmer prediksi era "player-owned discovery" di mana gamer jadi kurator utama via rating dan share.
Gamer Indonesia untung besar: lebih banyak game berkualitas muncul tanpa bergantung iklan. Namun, tantangannya adalah literasi digital untuk hindari scam game.
Pada akhirnya, kematian discoverability lama membuka jalan untuk ekosistem yang lebih autentik dan player-centric. Seperti kata Guy Ulmer, masa depan gaming ada di tangan komunitas—bukan algoritma app store. Dengan adaptasi cepat, baik developer seperti Plarium maupun gamer Indonesia bisa menikmati gelombang game inovatif yang tak terduga.