Neon Genesis Evangelion (NGE) bukan sekadar anime mecha biasa. Sejak tayang pertama kali pada 1995, seri karya Hideaki Anno ini telah merevolusi dunia anime dengan cerita mendalam tentang psikologi manusia, agama, dan pertempuran epik melawan malaikat raksasa. Di Indonesia, Eva populer di kalangan gamer berkat adaptasi game seperti Evangelion Battlefields dan kolaborasi di game mobile populer. Namun, sedikit yang tahu bahwa fondasi epik ini berasal dari legenda sci-fi Jepang era 1960-an yang kini jarang disebut: Eiji Tsuburaya, pencipta Ultraman.
Pengaruh Tsuburaya tak hanya pada visual efek khusus, tapi juga konsep hero raksasa yang bertarung dengan batas waktu ketat. Bagi pembaca Indonesia yang mungkin baru mengenal tokusatsu (serial live-action sci-fi Jepang), artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana warisan 60-an ini membentuk Eva, lengkap dengan insight untuk fans dan gamer modern.
1 Apa Itu Neon Genesis Evangelion dan Mengapa Begitu Berpengaruh?
Neon Genesis Evangelion pertama kali ditayang pada Oktober 1995 oleh studio Gainax, diproduksi oleh Hideaki Anno yang sedang mengalami depresi berat. Anime 26 episode ini mengisahkan Shinji Ikari, remaja yang mempilot robot raksasa Evangelion Unit-01 untuk melawan Angels—makhluk misterius yang mengancam umat manusia di Tokyo-3 pasca-apocalypse. Tema psikologis seperti escapism, hubungan orang tua-anak, dan eksistensialisme membuatnya beda dari mecha anime lain seperti Gundam.
Suksesnya luar biasa: franchise ini telah menghasilkan film seperti The End of Evangelion (1997), seri rebuild (2007-2021), dan merchandise global. Di Indonesia, Eva dikenal lewat streaming platform dan game seperti Super Robot Wars di mana Eva crossover dengan mecha lain. Pengaruhnya terasa hingga game battle royale modern yang ambil elemen dystopian.
Perlu Diketahui
Eva bukan hanya anime; ia punya lebih dari 30 tahun konten, termasuk game PS4/PS5 seperti Evangelion: Death and Rebirth yang wajib dimainkan fans untuk pahami lore lengkap.
2 Legenda Sci-Fi 1960-an: Eiji Tsuburaya dan Kelahiran Ultraman
Eiji Tsuburaya, lahir 1901, adalah pionir efek khusus Jepang yang sering disebut "Father of Tokusatsu". Pada 1966, ia menciptakan Ultraman melalui Tsuburaya Productions—serial TV di mana alien Ultraman menyamar sebagai manusia bernama Hayata, berubah jadi raksasa 40 meter untuk lawan kaiju (monster raksasa) dalam batas energi 3 menit. Ini tayang di TBS dan jadi fenomena nasional Jepang.
Meski kini jarang diingat di luar Jepang, Tsuburaya sudah ciptakan Godzilla (1954) dan seri Ultraman yang punya 50+ entry hingga sekarang. Bagi gamer Indonesia, Ultraman mirip game kaiju fighter seperti Pacific Rim atau Godzilla Battle Legends, di mana timing dan strategi kunci kemenangan.
- ⭐ Inovasi Efek Khusus: Tsuburaya gunakan suit actor dan miniatur set, teknik yang masih dipakai di Hollywood seperti Marvel films.
- ⭐ Konsep Hero Manusiawi: Ultraman lelah dan butuh energi, mirip pilot Eva yang trauma mental—bukan superhero sempurna.
- ⭐ Pengaruh Global: Ultraman tayang di 50+ negara, termasuk Indonesia via TV lokal 80-90an.
3 Bagaimana Ultraman Membentuk Neon Genesis Evangelion?
Hideaki Anno, fans berat tokusatsu, secara terbuka akui inspirasi dari Ultraman. Di Eva, pilot seperti Shinji harus sinkron dengan Eva (yang punya jiwa), mirip Ultraman yang bergantung energi Color Timer yang berkedip saat 3 menit habis—lihat saja scene Rei atau Asuka kehabisan sync rate. Angels sebagai kaiju baru, dengan desain monster unik.
Anno bahkan homage langsung: Eva bersembunyi di Geofront seperti Ultraman di Mark Industrial, dan tema "monster dari langit" paralel. Ini buat Eva bukan tiruan, tapi evolusi: tambah psikologi gelap Anno pasca-1980an bubble economy Jepang.
Pro Tip!
Untuk gamer Indonesia, coba main Super Robot Wars X/V di Steam atau PS—Eva vs Ultraman crossover asli! Atur sensitivity tinggi untuk combo AT Field break, dan pelajari lore via wiki Jepang untuk insight lebih dalam.
4 Dampak Warisan Ini bagi Fans dan Gamer Indonesia Saat Ini
Di Indonesia, Eva dan Ultraman sama-sama ikon 90an via VHS dan TV. Komunitas seperti Eva Indonesia di Discord diskusikan homage ini. Game Eva terbaru seperti Evangelion: Another Impact (QR code ARG) tambah elemen misteri ala tokusatsu.
- 1 Tips Nonton Ulang: Mulai dari seri original 1995, lalu End of Evangelion untuk ending alternatif. Hindari rebuild dulu agar tak bingung timeline.
- 2 Game Rekomendasi: Evangelion Strategy game di mobile, fokus build Eva sync seperti Ultraman energy management untuk win streak.
- 3 Insight Budaya: Tema depresi Eva relevan di era pandemi; Ultraman ajarkan resilience—gabungan sempurna untuk generasi Z Indonesia.
Warisan Eiji Tsuburaya melalui Ultraman membuktikan bahwa ide sci-fi 1960-an tetap abadi, membentuk masterpesi seperti Neon Genesis Evangelion yang terus hidup di anime, game, dan hati fans global termasuk Indonesia. Dengan memahami akar ini, kita lebih menghargai kedalaman cerita di balik aksi spektakuler, menginspirasi generasi baru kreator dan gamer.