Home Blog Gaming Pasca Gelombang PHK Industri G...
Pasca Gelombang PHK Industri Game 2025: Penurunan Tipis di Tengah Ketidakpastian Global
Gaming

Pasca Gelombang PHK Industri Game 2025: Penurunan Tipis di Tengah Ketidakpastian Global

A

Administrator

Author

21 Dec 2025
39 views
0 komentar
Share:

Industri game, yang sering dianggap kebal terhadap gejolak ekonomi karena sifatnya yang hiburan, justru mengalami periode yang sangat bergejolak dalam beberapa tahun terakhir. Setelah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masif yang melanda sepanjang tahun 2024, banyak yang berharap tahun 2025 akan membawa angin segar. Namun, data menunjukkan bahwa meskipun terjadi sedikit penurunan dibandingkan puncaknya, realitasnya masih jauh dari kata stabil. Bagi para profesional di industri ini, terutama di pusat-pusat pengembangan tradisional seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat, tahun 2025 membawa tantangan baru yang kompleks.

Data terbaru menunjukkan adanya sedikit perbaikan, namun angka total PHK tetap mengkhawatirkan. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan penyesuaian pasca-pandemi yang berlebihan, tetapi juga perubahan struktural fundamental dalam cara game diproduksi dan didistribusikan secara global. Mari kita bedah lebih dalam apa yang terjadi di balik statistik tersebut dan apa dampaknya bagi ekosistem game secara keseluruhan.

1 Data PHK 2025: Penurunan Tipis dari Puncak Krisis 2024

Jika kita melihat angka secara agregat, tahun 2025 menunjukkan sedikit penurunan sekitar sepertiga (sekitar 33%) jika dibandingkan dengan angka PHK yang tercatat pada tahun 2024. Angka ini, meski terdengar melegakan, tidak boleh membuat kita terlena. Tahun 2024 sendiri merupakan tahun yang sangat brutal bagi industri, dengan banyak studio besar maupun indie terpaksa merumahkan ratusan hingga ribuan karyawan akibat pembatalan proyek ambisius dan koreksi pasar yang terlalu optimis selama pandemi.

Penurunan di tahun 2025 sebagian besar disebabkan oleh beberapa perusahaan yang telah menyelesaikan restrukturisasi besar-besaran di akhir tahun sebelumnya. Namun, kondisi operasional secara keseluruhan masih sangat menantang. Margin keuntungan semakin tipis, biaya pengembangan game AAA terus meroket, dan ekspektasi pemain terhadap kualitas rilis semakin tinggi. Ini menciptakan tekanan konstan pada studio untuk beroperasi seefisien mungkin, yang sering kali berarti membatasi perekrutan atau melakukan pengurangan tenaga kerja secara berkala.

ℹ️

Perlu Diketahui

Kondisi di Barat berbeda dengan Asia Tenggara. Meskipun data PHK sering berpusat di AS dan Eropa, pasar game Indonesia dan sekitarnya justru menunjukkan pertumbuhan pengguna yang stabil, meskipun developer lokal juga merasakan dampak dari perlambatan investasi global.

2 Pergeseran Geografis: Daya Tarik Pasar Baru dan Dampaknya

Salah satu tren paling signifikan yang memengaruhi angka PHK di Amerika Serikat dan Eropa Barat adalah pergeseran strategis perusahaan besar menuju 'pasar yang sedang berkembang' (emerging markets). Fenomena ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan perubahan fundamental dalam rantai pasok pengembangan game.

Studio-studio besar kini semakin sering mengalihkan pekerjaan yang dulunya dilakukan oleh tim internal di negara-negara Barat ke studio mitra di wilayah dengan biaya operasional yang lebih rendah. Ini termasuk outsourcing pekerjaan seni, pemrograman pendukung, hingga Quality Assurance (QA) ke negara-negara di Asia Timur, Eropa Timur, atau Amerika Latin.

  • 1 Efisiensi Biaya: Mengurangi biaya gaji dan operasional adalah insentif utama. Dengan biaya hidup yang lebih rendah di pasar baru, studio dapat mempertahankan kualitas sambil menekan anggaran pengembangan yang membengkak.
  • 2 Akses Bakat Spesialis: Beberapa pasar baru kini memiliki talenta spesialis yang sangat mumpuni di bidang tertentu, seperti optimasi engine atau pengembangan mobile, yang mungkin lebih mudah direkrut di sana.
  • 3 Proksimitas Pasar Konsumen: Dengan pertumbuhan pesat pemain di Asia, menempatkan tim pengembangan lebih dekat ke basis konsumen terbesar juga menjadi pertimbangan strategis.

Bagi para pengembang di negara-negara Barat, tren ini berarti persaingan kerja semakin ketat. Mereka tidak hanya bersaing dengan sesama developer lokal, tetapi juga harus membuktikan nilai tambah mereka yang unik—seringkali berfokus pada peran kepemimpinan, desain naratif inti, atau teknologi proprietary—yang sulit dialihdayakan.

💡

Pro Tip!

Bagi developer yang berada di wilayah dengan biaya hidup tinggi, fokuslah untuk menguasai alat dan teknologi yang paling mutakhir (seperti AI generatif untuk aset atau engine terbaru) yang masih memerlukan sentuhan ahli tingkat tinggi. Ini akan membuat posisi Anda lebih sulit untuk digantikan oleh outsourcing berbasis biaya.

3 Masa Depan Pengembangan: Fokus pada Efisiensi dan Iterasi Cepat

Kondisi pasar yang sulit memaksa industri game untuk beradaptasi, dan adaptasi ini terlihat jelas dalam model pengembangan yang diadopsi studio pada tahun 2025. Era 'membangun game selama 5 tahun dengan anggaran tak terbatas' tampaknya mulai memudar, digantikan oleh kebutuhan akan rilis yang lebih cepat dan lebih sering, setidaknya untuk menjaga arus kas tetap berjalan.

Para eksekutif kini lebih memilih model pengembangan 'live service' yang terbukti menghasilkan pendapatan berkelanjutan, meskipun implementasinya seringkali sulit. Hal ini berarti peran-peran yang mendukung siklus konten pasca-rilis—seperti Community Manager, Live Operations Specialist, dan Data Analyst—justru mulai mengalami peningkatan permintaan, sementara beberapa peran pra-produksi tradisional mungkin tertekan.

  • Pengurangan 'Scope Creep': Studio kini lebih disiplin dalam mendefinisikan ruang lingkup proyek sejak awal. Proyek yang terlalu ambisius tanpa pendanaan yang jelas cenderung dibatalkan sebelum mencapai tahap produksi penuh.
  • Adopsi Teknologi Baru: Integrasi AI dalam pembuatan aset standar (placeholder art, animasi dasar) dipercepat untuk mengurangi beban kerja tim artist inti dan mempercepat prototipe.
  • Fokus pada Monetisasi Awal: Game yang tidak memiliki jalur monetisasi yang jelas di awal pengembangan menghadapi risiko pembatalan yang lebih tinggi, bahkan jika konsepnya bagus.

Meskipun angka PHK secara statistik sedikit lebih baik di tahun 2025 dibandingkan krisis 2024, suasana hati industri tetap tegang. Sentimen yang diungkapkan oleh para ahli, seperti Amir Satvat dari Tencent Games, menggarisbawahi bahwa kita belum melihat titik balik yang pasti. Industri game sedang melalui proses 'dewasa' yang menyakitkan, di mana model bisnis yang tidak berkelanjutan sedang dibersihkan. Bagi para gamer di Indonesia, ini berarti kita mungkin akan melihat lebih banyak judul game yang lebih terfokus, lebih cepat rilis, dan mungkin lebih banyak kejutan tak terduga di pasar.

Kesimpulannya, tahun 2025 adalah tahun konsolidasi dan penyesuaian skala. Penurunan PHK adalah indikasi bahwa fase pembersihan besar-besaran mungkin telah berakhir, namun tekanan struktural—terutama pergeseran biaya pengembangan ke pasar yang lebih murah—akan terus membentuk lanskap industri game global. Pekerja industri game harus terus meningkatkan nilai spesialisasi mereka, sementara gamer menantikan judul-judul yang lebih efisien dan terarah yang lahir dari era ketidakpastian ini.

A

Administrator

Content Writer

Penulis artikel seputar gaming dan top up. Senang berbagi tips dan trik gaming!

Komentar (0)

Login untuk Berkomentar

Silakan login terlebih dahulu untuk dapat meninggalkan komentar.

Login Sekarang

Belum punya akun? Daftar di sini

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Kabar Gembira Pelanggan Verizon: Diskon Besar YouTube TV, Simak Cara Dapat Harga Rp999 Ribu Setahun!

Kabar Gembira Pelanggan Verizon: Diskon Besar YouTube TV, Simak Cara Dapat Harga Rp999 Ribu Setahun!

01 Jan 2026 Baca →
Masa Depan Apple Pencil di iPhone Lipat 2026: Apakah Dukungan Stylus Akan Jadi Kenyataan?

Masa Depan Apple Pencil di iPhone Lipat 2026: Apakah Dukungan Stylus Akan Jadi Kenyataan?

01 Jan 2026 Baca →
📰

Melampaui Kim Wexler: Menyelami Peran Genre Rhea Seehorn di Dunia 'Magic: The Gathering'!

01 Jan 2026 Baca →