Richard Stallman, sang bapak gerakan perangkat lunak bebas (free software) yang legendaris, baru saja tampil di Georgia Institute of Technology, Atlanta, pada Jumat lalu. Dalam pidatonya, ia melanjutkan perjuangan panjangnya untuk software bebas sambil menyentil teknologi mutakhir seperti AI, mobil pintar (connected cars), smartphone, dan Digital Rights Management (DRM). Bagi gamer Indonesia, kritik ini sangat relevan karena banyak game modern terjebak dalam jebakan proprietary software dan pengawasan data yang merugikan privasi serta pengalaman bermain.
Stallman, pencipta GNU Project dan pendiri Free Software Foundation (FSF), selalu menekankan pentingnya kebebasan pengguna atas perangkat lunak. Di era gaming di mana AI mendominasi NPC cerdas, DRM mengunci akses game, dan smartphone jadi pusat mobile gaming seperti Mobile Legends atau PUBG Mobile, pandangannya memberikan perspektif segar. Mari kita bedah satu per satu kritiknya, lengkap dengan konteks untuk pembaca kita di Tanah Air.
1 Kritik Stallman terhadap Artificial Intelligence (AI)
Stallman memperingatkan bahwa istilah 'artificial intelligence' sering disalahpahami. Menurutnya, AI modern bukanlah kecerdasan buatan sejati, melainkan program yang memproses data besar secara otomatis tanpa pemahaman manusiawi. Ia khawatir AI justru membuat orang malas berpikir sendiri karena bergantung pada mesin. "Sekarang orang sering pakai istilah AI untuk apa yang sebenarnya hanya otomatisasi bodoh," katanya.
Untuk gamer Indonesia, ini relevan banget. Bayangkan AI di game seperti Valorant atau Genshin Impact yang mengontrol aimbot atau prediksi gerakan musuh. Banyak cheater pakai AI untuk unfair advantage, merusak komunitas esports lokal kita. Stallman mendorong penggunaan software bebas agar kita bisa audit kode AI dan hindari bias korporat seperti dari OpenAI atau Google.
Siapa Richard Stallman?
RMS lahir 1953, ciptakan Emacs dan GCC. Gerakannya lahir 1983 via GNU Manifesto, lawan proprietary software seperti Windows atau iOS yang batasi kebebasan. Di Indonesia, free software populer untuk Linux distro seperti Ubuntu yang dipakai komunitas modder game.
2 Bahaya Connected Cars dan Pengawasan Data
Stallman menyebut connected cars sebagai 'mobil pengintai' karena terus mengirim data lokasi, kebiasaan berkendara, hingga percakapan ke pabrikan seperti Tesla atau BYD. Software proprietary di mobil ini tak bisa diubah pengguna, mirip malware yang tak bisa dihapus. Ia bilang, "Mobil pintar ini pelajari segalanya tentangmu tanpa persetujuan."
Hubungannya dengan gaming? Di Indonesia, banyak gamer pakai mobil untuk event esports atau streaming via dashboard cam. Bayangkan data gaming session-mu terekam dan dijual. Untuk gamer PC, prinsip serupa berlaku pada konsol seperti PS5 atau Xbox yang 'terhubung' terus-menerus, kirim data ke server Sony/Microsoft.
- 1 Risiko Privasi: Data lokasi bocor bisa dimanfaatkan hacker, seperti kasus data breach di game online Indonesia.
- 2 Alternatif Bebas: Dukung mobil dengan OS open-source seperti Automotive Grade Linux untuk modding dashboard gaming.
3 Smartphone Proprietary dan Ketergantungan
Smartphone seperti iPhone atau Android branded disebut Stallman sebagai perangkat perbudakan digital. Semua app dari store resmi terkunci, data terkumpul, dan update dipaksa. Ia kritik Google dan Apple karena monopoli ekosistem yang batasi pilihan pengguna.
Bagi gamer mobile Indonesia yang andalkan Free Fire, MLBB, atau COD Mobile, ini masalah besar. Banyak top-up diamond atau skin terkunci di app store, dan banned akun karena mod APK. Stallman sarankan pakai /e/OS atau LineageOS berbasis Android bebas untuk install game tanpa batas.
Pro Tip!
Coba install F-Droid di HP-mu untuk download game open-source seperti SuperTuxKart atau Mindustry. Aman dari malware, bisa dimodifikasi, dan cocok untuk spek rendah ala HP budget Indonesia. Hindari Google Play untuk privasi lebih baik!
4 Digital Rights Management (DRM): Musuh Utama Free Software
Puncak kritik Stallman adalah DRM, yang ia sebut 'teknologi jahat' karena batasi hak pengguna sah. DRM di Netflix, Steam, atau Epic Games cegah copy, modding, atau backup game-mu sendiri. Di pidato ini, ia ingatkan bahwa DRM rusak pengalaman seperti game crash karena Denuvo.
Gamer Indonesia sering kena imbas: game AAA seperti Cyberpunk 2077 butuh koneksi konstan, atau banned karena VPN top-up murah dari server luar. Solusi Stallman: Pilih game tanpa DRM seperti dari GOG.com atau itch.io, dan dukung developer indie lokal yang ramah modding.
- ā Cek DRM-Free: Gunakan situs CanYouRunIt atau ProtonDB untuk verifikasi game Steam bebas DRM di Linux.
- ā Modding Aman: Di Indonesia, komunitas seperti IDWS aktif share mod untuk game DRM-free, tingkatkan replay value tanpa risiko ban.
Pidato Stallman di Georgia Tech mengingatkan kita bahwa teknologi bukan harus mengorbankan kebebasan. Bagi gamer Indonesia, pelajaran utamanya adalah sadar pilih platform bebas: Linux untuk PC gaming (via Steam Proton), ROM open-source untuk emulator, dan hindari ketergantungan DRM. Dengan begitu, kita bisa nikmati game lebih lama, aman, dan kreatif tanpa dikendalikan korporasi raksasa. Mari dukung gerakan free software agar gaming masa depan lebih inklusif!