Home Blog Gaming Sony Akhiri Produksi TV Sendir...
Sony Akhiri Produksi TV Sendiri: Dampak Besar bagi Gamer PlayStation di Indonesia
Gaming

Sony Akhiri Produksi TV Sendiri: Dampak Besar bagi Gamer PlayStation di Indonesia

A

Administrator

Author

25 Jan 2026
64 views
0 komentar
Share:

Sony bukan nama asing bagi para gamer dan penggemar teknologi di Indonesia. Dari konsol legendaris PlayStation hingga TV Bravia yang mendukung pengalaman gaming immersive, raksasa Jepang ini telah membentuk cara kita menikmati hiburan. Namun, berita mengejutkan datang minggu ini: Sony mengakhiri era produksi TV sendiri sepenuhnya. Pabrik terakhir di Malaysia ditutup, dan produksi Bravia kini diserahkan ke mitra seperti Hisense dan Foxconn. Apa implikasinya bagi ribuan gamer PS5 di tanah air?

Perubahan ini bukan sekadar restrukturisasi bisnis, tapi menandai akhir dominasi Sony di pasar TV premium. Bagi pembaca Indonesia yang sering top-up diamond Mobile Legends atau UC PUBG sambil santai di depan TV besar, pemahaman ini krusial. Mari kita bedah lebih dalam, lengkap dengan konteks lokal dan tips praktis untuk tetap menikmati gaming kelas atas.

1 Sejarah Glorious Sony di Dunia TV: Dari Trinitron ke Bravia XR

Sony memulai petualangan TV-nya dengan Trinitron pada 1968, tabung gambar yang merevolusi kualitas visual saat itu. Inovasi ini membawa Sony ke puncak, bersaing dengan Pioneer dan Panasonic. Masuk era flat screen, Sony meluncurkan Bravia series yang terkenal dengan teknologi X1 Ultimate processor, mendukung HDR10, Dolby Vision, dan refresh rate 120Hz—sempurna untuk gaming konsol seperti PS4 dan PS5.

Di Indonesia, TV Sony Bravia populer di kalangan gamer karena fitur eksklusif seperti Auto HDR Tone Mapping otomatis saat terhubung PS5, serta Acoustic Surface Audio yang membuat suara keluar dari layar langsung. Penjualan Bravia di sini mencapai ribuan unit per tahun, terutama model OLED seperti A95K yang harganya Rp50-100 jutaan.

ℹ️

Perlu Diketahui

Sony sudah mulai outsource produksi TV sejak 2016 di Jepang, tapi penutupan pabrik Malaysia (kapasitas 3 juta unit/tahun) menandai akhir total. TV Bravia tetap dijual, tapi dibuat oleh Hisense—produsen TV murah asal China.

2 Alasan Sony Mundur dari Produksi TV: Fokus ke Gaming dan Profit

Keputusan ini dipicu persaingan ketat dari Samsung, LG, dan TCL yang mendominasi pasar OLED/QLED dengan harga lebih kompetitif. Sony rugi besar di divisi TV selama bertahun-tahun, meski margin keuntungan PlayStation mencapai 30%. Dengan penutupan pabrik Malaysia, Sony hemat biaya operasional hingga miliaran dolar, sambil tetap lisensikan brand Bravia ke Hisense.

Bagi Sony, ini strategi cerdas: fokus ke core business seperti PS5 (sudah terjual 50 juta unit global) dan PS VR2. Di Indonesia, di mana pasar TV gaming tumbuh 15% per tahun berkat e-sport seperti MPL dan PMGC, Sony ingin gamer tetap setia via konsol, bukan TV.

  • 1 Biaya Produksi Tinggi: Pabrik Sony mahal, sementara kompetitor gunakan panel murah dari China.
  • 2 Pasar Jenuh: Konsumen beralih ke smart TV murah dengan Google TV atau Android TV.
  • 3 Fokus Gaming: PS6 dirumorkan 2027, Sony prioritas R&D konsol.

3 Dampak bagi Gamer PS5 di Indonesia: Masih Layak Beli Bravia Baru?

Gamer Indonesia yang punya PS5 bakal kehilangan fitur seamless seperti Auto Genre Picture Mode. TV Bravia buatan Hisense mungkin turun kualitas gambar dan build, meski spesifikasi sama. Harga Bravia di Indonesia (Rp20-60 juta) kini kalah saing dengan Samsung QN90C atau LG C3 yang punya VRR 144Hz dan input lag di bawah 10ms.

Context lokal: Di Shopee dan Tokopedia, penjualan TV gaming naik 20% pasca-PS5 restock. Banyak pro player FF dan Valorant pilih TV 55 inci ke atas untuk kompetisi. Sony janji dukung software update, tapi hardware OEM bisa bikin umur panjang berkurang.

💡

Pro Tip!

Sebelum beli TV baru untuk PS5, cek fitur HDMI 2.1, ALLM (Auto Low Latency Mode), dan Dolby Vision Gaming. Di Indonesia, prioritas panel OLED untuk warna hitam sempurna di game gelap seperti God of War Ragnarok. Test di toko dengan demo PS5!

  • Samsung Neo QLED: Terbaik untuk brightness tinggi di ruang terang ala rumah tropis Indonesia, harga mulai Rp25 juta.
  • LG OLED Evo: Input lag rendah, WebOS smooth untuk streaming Netflix sambil grind ranked MLBB.
  • TCL C845: Budget king Rp15 jutaan, Mini-LED bagus untuk Free Fire Max di 120fps.

4 Masa Depan Sony: Lebih Kuat di Gaming, Bukan TV

Sony tak mundur total dari visual; mereka investasi di projector 8K dan monitor pro. Bagi gamer Indonesia, PS5 Pro (dirumorkan akhir 2024) bakal jadi andalan, dengan fitur upscale AI mirip TV Bravia. Sony juga ekspansi cloud gaming via PS Plus Premium, cocok buat koneksi fiber rumah tangga di Jakarta-Bandung.

Kesimpulannya, akhir era TV Sony adalah babak baru di mana konsol tetap raja. Gamer pintar akan adaptasi dengan alternatif berkualitas, sambil tetap nikmati ekosistem PlayStation yang tak tergantikan. Pantau update PS5 untuk fitur TV-agnostic ke depan—gamingmu tetap epic!

A

Administrator

Content Writer

Penulis artikel seputar gaming dan top up. Senang berbagi tips dan trik gaming!

Komentar (0)

Login untuk Berkomentar

Silakan login terlebih dahulu untuk dapat meninggalkan komentar.

Login Sekarang

Belum punya akun? Daftar di sini

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

📰

Saudi Arabia Bidik Moonton Pembuat Mobile Legends Senilai Rp95 Triliun: Apa Dampaknya untuk Gamer Indonesia?

16 Feb 2026 Baca →
Out of the Park Baseball 27 Siap Meluncur Pertengahan Maret: Upgrade Lengkap untuk Simulasi Baseball Terdepan

Out of the Park Baseball 27 Siap Meluncur Pertengahan Maret: Upgrade Lengkap untuk Simulasi Baseball Terdepan

15 Feb 2026 Baca →
Review OPPO Reno15 F 5G: HP Gaming 5G Mid-Range dengan Performa Ngebut untuk MLBB dan PUBG Mobile

Review OPPO Reno15 F 5G: HP Gaming 5G Mid-Range dengan Performa Ngebut untuk MLBB dan PUBG Mobile

14 Feb 2026 Baca →