Dalam dunia gaming yang penuh kejutan, berita dari Ubisoft baru-baru ini benar-benar mengejutkan para penggemar. Perusahaan raksasa asal Prancis itu mengumumkan reorganisasi besar-besaran yang berdampak langsung pada proyek remake Prince of Persia: The Sands of Time, game klasik tahun 2003 yang sudah lama dinantikan. Bagi gamer Indonesia, yang banyak tumbuh besar dengan seri petualangan Persia ini di PC bangku sekolah atau PlayStation jadul, kabar ini tentu mengecewakan. Namun, di balik pembatalan ini, ada strategi jangka panjang Ubisoft untuk fokus pada judul-judul blockbuster.
Reorganisasi ini bukan sekadar pemangkasan, melainkan upaya Ubisoft untuk menyusun ulang portofolio mereka di tengah tantangan ekonomi global pasca-pandemi. Enam game dibatalkan, beberapa studio ditutup, dan yang lain direstrukturisasi. Mari kita bedah lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana ini memengaruhi ekosistem gaming, khususnya bagi komunitas di Tanah Air.
1 Latar Belakang Remake Prince of Persia yang Tragis
Prince of Persia: The Sands of Time pertama kali dirilis pada 2003 oleh Ubisoft dan langsung menjadi legenda. Game action-adventure ini memperkenalkan mekanik time-rewind yang revolusioner, di mana pemain bisa memutar balik waktu untuk memperbaiki kesalahan. Di Indonesia, seri ini populer banget di warnet-warnet era 2000-an, dan banyak gamer lokal yang menghabiskan malam-malam memainkan puzzle rumitnya sambil mendengarkan soundtrack epik.
Ubisoft mengumumkan remake pada 2020 dengan janji grafis next-gen dan mekanik yang ditingkatkan. Namun, proyek ini terhambat berulang kali: delay dari target rilis 2021 menjadi 2022, lalu 2023, bahkan sempat ditunda tak terbatas. Alasan utamanya adalah masalah pengembangan, termasuk pergantian tim di studio Ubisoft Montreal. Kini, dengan reorganisasi, remake ini resmi dibatalkan, meninggalkan penggemar kecewa setelah bertahun-tahun menunggu.
Perlu Diketahui
Sands of Time asli punya rating Metacritic 92/100 dan terjual lebih dari 5 juta kopi. Remake sempat tunjukkan trailer di Ubisoft Forward 2020, tapi engine AnvilNext bermasalah dalam adaptasi.
2 Detail Reorganisasi Besar Ubisoft: Apa yang Dibatalkan?
Reorganisasi ini diumumkan secara resmi oleh Ubisoft sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas. Total enam game dibatalkan, termasuk Prince of Persia remake dan proyek lain seperti The Division Heartland yang sempat diantisipasi. Selain itu, Ubisoft menutup beberapa studio kecil dan merestrukturisasi yang lebih besar, seperti di Kanada dan India, yang memengaruhi ratusan karyawan.
Fokus utama kini beralih ke game AAA besar seperti Assassin's Creed Shadows, Star Wars Outlaws, dan Skull & Bones yang baru saja dirilis. Langkah ini mirip dengan apa yang dilakukan Activision Blizzard atau EA di masa lalu, di mana pemangkasan proyek mid-tier dilakukan untuk bertahan di pasar yang kompetitif. Bagi gamer Indonesia, ini berarti lebih sedikit pilihan game single-player klasik, tapi potensi konten live-service yang lebih stabil.
- 1 Prince of Persia Remake: Dibatalkan setelah delay panjang, alih-alih fokus ke proyek baru seperti The Rogue Prince of Persia yang bergaya roguelite.
- 2 The Division Heartland: Game free-to-play extraction shooter yang dibatalkan untuk hemat biaya pengembangan.
- 3 Studio Penutupan: Termasuk studio di Asia dan Eropa, dengan pemindahan tim ke proyek utama.
3 Dampak bagi Gamer Indonesia dan Industri Game
Bagi komunitas gaming Indonesia, pembatalan ini menyedihkan karena Prince of Persia punya tempat spesial di hati banyak orang. Di platform seperti Steam atau emulator, versi asli masih dimainkan ribuan orang setiap bulan. Reorganisasi ini juga mencerminkan tren global di mana publisher besar lebih memprioritaskan game dengan potensi monetisasi tinggi, seperti battle royale atau open-world RPG.
Namun, ada sisi positif: Ubisoft berjanji lebih banyak update untuk game existing seperti Rainbow Six Siege dan The Crew Motorfest, yang populer di scene esports Indonesia. Industri game secara keseluruhan belajar bahwa pengembangan harus lebih lincah, menghindari scope creep seperti kasus remake PoP ini.
Pro Tip!
Sambil menunggu kabar baru, coba main ulang Sands of Time asli via Steam atau GOG seharga kurang dari Rp50.000. Aktifkan widescreen patch dari komunitas PCGamingWiki untuk pengalaman modern di monitor 16:9. Cocok buat nostalgia sambil latihan timing parry!
- ⭐ Nostalgia Aman: Unduh versi remastered fan-made atau mod HD texture untuk grafis lebih tajam tanpa kehilangan feel original.
- ⭐ Alternatif Serupa: Coba game seperti Assassin's Creed 1 atau God of War (2018) untuk aksi akrobatik mirip PoP.
4 Masa Depan Ubisoft: Harapan Baru bagi Penggemar
Meski kehilangan enam game, Ubisoft tetap optimis dengan pipeline kuat. Star Wars Outlaws yang baru rilis mendapat review positif, dan Assassin's Creed Shadows dijadwalkan akhir 2024 dengan setting Jepang feodal yang menarik bagi gamer Asia. Reorganisasi ini diharapkan menghemat biaya hingga miliaran euro, memungkinkan investasi di VR atau cloud gaming.
Bagi Indonesia, ini peluang top-up murah untuk game Ubisoft via platform lokal, sambil pantau proyek spin-off Prince of Persia seperti yang berbasis roguelite. Industri game terus berubah, dan gamer pintar adalah yang adaptif.
Pembatalan remake Prince of Persia memang pil pahit, tapi reorganisasi Ubisoft menunjukkan komitmen untuk kualitas di atas kuantitas. Gamer Indonesia bisa tetap menikmati library Ubisoft yang luas sambil berharap seri klasik ini bangkit dalam bentuk baru. Tetap pantau update, karena dunia gaming tak pernah kehabisan kejutan!