The Game Awards (TGA) selalu menjadi panggung yang dinanti-nanti oleh para gamer di seluruh dunia. Dikenal sebagai 'Oscar-nya industri game', acara ini tidak hanya merayakan pencapaian tahunan, tetapi juga menjadi ajang peluncuran trailer eksklusif dan pengumuman kejutan yang seringkali memicu euforia massal. Namun, pada gelaran terbarunya, momen 'One More Thing' yang seharusnya menjadi klimaks penutup justru berubah menjadi sumber kekecewaan yang meluas. Kejutan pamungkas yang dimaksud adalah pengumuman game shooter baru bernama Highguard dari studio Wildlight Entertainment. Sayangnya, alih-alih mendapatkan sambutan hangat, pengumuman ini justru memicu perdebatan sengit di kalangan komunitas gamer. Mengapa sebuah *World Premiere* di acara sebesar TGA justru menuai kritik pedas?
Untuk memahami mengapa reaksi publik begitu negatif, kita perlu menempatkan pengumuman ini dalam konteks acara TGA secara keseluruhan. TGA 2023 telah menyajikan berbagai trailer memukau dan konfirmasi judul-judul yang sudah lama dinanti. Ketika sorotan beralih ke segmen penutup, ekspektasi audiens berada di titik tertinggi, mengharapkan pengungkapan besar—mungkin sekuel dari franchise legendaris atau IP baru dari studio AAA ternama. Namun, yang tersaji adalah Highguard, sebuah game yang belum banyak diketahui, yang terasa kurang 'nendang' untuk mengakhiri sebuah festival game akbar.
1 Konteks Ekspektasi Tinggi di The Game Awards
The Game Awards, di bawah arahan Geoff Keighley, telah lama membangun reputasi sebagai tempat debut utama. Pengumuman besar seperti *Elden Ring* trailer pertama atau pengungkapan *Star Wars Eclipse* di tahun-tahun sebelumnya telah menetapkan standar yang sangat tinggi. Audiens datang bukan hanya untuk melihat pemenang, tetapi juga untuk menyaksikan masa depan industri game yang dipamerkan secara dramatis.
Ketika TGA 2023 mendekati akhir, para penggemar sudah disuguhi banyak konten menarik. Oleh karena itu, ketika hanya tersisa satu slot 'World Premiere' terakhir, spekulasi liar muncul. Banyak yang berharap ini adalah kesempatan emas untuk mengumumkan sesuatu yang benar-benar mengubah peta industri atau setidaknya mengobati kerinduan penggemar lama. Sayangnya, Highguard, yang digambarkan sebagai *shooter* baru dari Wildlight Entertainment, terasa asing dan kurang memiliki 'bobot' untuk menutup acara tersebut. Ini menciptakan disonansi antara momen yang disajikan dan harapan kolektif penonton.
Pro Tip!
Dalam acara besar seperti TGA, penempatan pengumuman sangat krusial. Pengumuman di awal atau tengah acara cenderung lebih mudah diterima jika gamenya belum terlalu dikenal, sementara penutup haruslah sesuatu yang 'mengguncang' untuk meninggalkan kesan mendalam.
2 Mengapa Highguard Gagal Memenuhi Janji 'Kejutan'?
Masalah utama yang dihadapi Highguard bukanlah kualitas game itu sendiri—karena pada tahap ini, gamer hanya melihat trailer perdana—melainkan penempatan dan konteksnya. Pengumuman 'World Premiere' seharusnya menjadi puncak, tetapi bagi banyak penonton, Highguard terasa seperti pengumuman dari acara yang lebih kecil.
Berikut adalah beberapa faktor yang memperburuk persepsi publik terhadap pengumuman Highguard:
- 1 Kurangnya Pengenalan IP Baru: Berbeda dengan studio besar yang sudah memiliki audiens loyal, Wildlight Entertainment dan IP Highguard relatif asing. Menempatkan game yang belum dikenal di slot pamungkas terasa kurang berani.
- 2 Genre yang Sudah Jenuh: Meskipun trailer mungkin menjanjikan, genre *shooter* adalah salah satu kategori game yang paling padat. Tanpa diferensiasi visual atau mekanik yang sangat unik, sulit bagi sebuah game baru untuk langsung mencuri perhatian di panggung sebesar TGA.
- 3 Kelelahan Audiens: Setelah sesi penghargaan dan serangkaian trailer AAA lainnya, energi penonton secara alami mulai menurun. Pengumuman di akhir acara membutuhkan daya kejut yang sangat besar untuk membangkitkan kembali antusiasme yang sudah mereda.
3 Dampak Reaksi Negatif dan Langkah Selanjutnya untuk Wildlight
Reaksi negatif yang muncul di media sosial dan forum gaming menunjukkan bahwa komunitas merasa 'dipermainkan' atau setidaknya, ekspektasi mereka tidak terpenuhi. Istilah 'One More Thing' menjadi ejekan, menyiratkan bahwa kejutan yang diberikan hanyalah formalitas belaka, bukan momen yang benar-benar signifikan.
Namun, penting untuk dicatat bahwa reaksi keras ini tidak selalu berarti game Highguard akan gagal total. Bagi studio independen seperti Wildlight Entertainment, mendapatkan slot di panggung TGA adalah pencapaian besar. Meskipun penempatan di akhir acara kurang ideal, visibilitas yang didapatkan dari acara tersebut tidak ternilai harganya. Kini, tantangan sebenarnya bagi mereka adalah bagaimana mengubah persepsi awal yang negatif menjadi ketertarikan positif.
Perlu Diketahui
Fenomena ini sering terjadi di acara *live*. Jika sebuah pengumuman tidak memiliki *hype* yang dibangun sebelumnya (seperti trailer yang bocor atau rumor kuat), penempatan di slot penutup TGA bisa menjadi pedang bermata dua: sangat berisiko jika mengecewakan, namun sangat menguntungkan jika berhasil.
Wildlight perlu segera merespons dengan strategi komunikasi yang jelas. Mereka harus fokus pada aspek keunikan Highguard yang mungkin tidak tersampaikan dalam trailer singkat tersebut. Apakah ada mekanik *co-op* yang inovatif? Apakah ada elemen naratif yang mendalam? Gamer Indonesia dan global akan menunggu langkah mereka selanjutnya, mungkin melalui demo tertutup atau sesi *deep dive* yang lebih mendalam.
Secara keseluruhan, kegagalan 'One More Thing' TGA 2023 adalah pelajaran berharga bagi penyelenggara acara besar: ekspektasi audiens adalah mata uang paling berharga. Ketika audiens telah disuguhkan makanan pembuka dan hidangan utama yang lezat, hidangan penutup haruslah spektakuler agar seluruh pengalaman terasa lengkap dan memuaskan. Pengumuman Highguard, meskipun mungkin merupakan game yang solid, sayangnya gagal memberikan 'ledakan' akhir yang layak untuk klimaks The Game Awards.